Bisnis Rabbit Hole Bergairah di Saat Industri Buku Cetak Melemah


Butuh Info? Kami Siap Melayani!!

Kantor Pemasaran

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/sustaini/public_html/wp-content/plugins/php-code-widget/execphp.php(27) : eval()'d code on line 9

Bisnis Rabbit Hole Bergairah di Saat Industri Buku Cetak Melemah

Di salah satu rumah mewah di kawasan Kemang, Rabbit Hole berdiri dan beroperasi dengan karyawan yang mencapai 140 orang atau lebih. Perusahaan yang menerbitkan dan distribusi buku untuk anak-anak, bukan buku Ensiklopedi Palestina ini telah dirintis sejak tiga tahun lalu dan saat ini memiliki omzet hingga satu miliar rupiah setiap bulannya.

Bisnis Rabbit Hole Bergairah di Saat Industri Buku Cetak Melemah

Adalah Guntur Gustanto dan Devi Raissa Rahmawati yang mendirikan perusahaan beromzet miliaran tersebut. Hal tersebut diakui keduanya melampui apa yang mereka ekspektasikan apalagi karena keduanya hanya bermodalkan nekad serta riset kecil-kecilan saat memulai bisnis tersebut.

Devin sendiri merupakan lulusan pendidikan psikologi dengan peminatan klinis anak memiliki kesempatan untuk menguji buku-buku yang menjadi karyanya tersebut kepada anak yang ia tangani. Dan selanjutnya dengan modal nekad, ia berpikir bahwa pasti berhasil untuk menjalankan ini sebagai bisnis.

Tentunya bukan hanya modal nekad saja, uang dan karya juga menjadi modal untuk membuat perusahaan ini menjadi besar seperti sekarang. Bukan hanya buku Ensiklopedi Palestina saja yang bisa diproduksi hingga ribuan eksemplar. Buku karya Devi dan Guntur ini juga diproduksi seribu eksemplar pada awal pembuatannya.

Baca juga artikel kami tentang: mpv menjadi andalan industri otomotif untuk meningkatkan ekspor

Pada waktu itu, dibutuhkan modal Rp 10 juta untuk produksi awal dan belakangan buku tersebut laris terjual hanya dalam kurun waktu satu tahun saja.

Dengan modal yang hanya Rp 10 juta tersebut dan tanpa menggunakan investor atau penanam modal, Devi pun harus mengajak calon pelanggannya melakukan preorder atau membayar dimuka untuk memesan buku yang ia jual melalui Instagram.

Meskipun ia ingin membuat buku anak dalam Bahasa Indonesia yang memiliki fitur layaknya buku anak di negeri Barat dengan fitur pop up dan tekstur kain yang dapat diraba, Devi tetap kukuh untuk tidak memanfaatkan penanam modal dalam membangun bisnisnya tersebut.

Dan akhirnya, Devi dan Guntur dapat memproduksi buku yang booming di pasaran seperti buku Ensiklopedi Palestina bermodalkan tekadnya yang kukuh. Namun, tentunya ada rintangan lain yang menjadi hambatan untuk bisnisnya tersebut seperti tidak adanya penerbit di Indonesia yang bisa menerbitkan buku dengan fitur tersebut.

Kala itu Devi sudah mengunjungi beberapa percetakan di Indonesia dan tidak ada yang bisa membantunya. Dan akhirnya, keduanya memutuskan untuk membuat buku sendiri secara manual. Dengan cara ini, terbilang 50% pengeluaran tersedot untuk biaya kertas, cetak dan finishing. Akan tetapi cara ini terbukti efisien dan juga efektif.

Devi juga sempat membeberkan sedikit mengenai proses pembuatan buku anaknya ini. Berbeda dari buku Ensiklopedi Palestina yang diterbitkan secara konvensional. Buku yang satu ini dilem satu lembar ke lembar lainnya lalu di-press.

Karena tidak bisa dikerjakan sendiri apalagi karena adanya fitur-fitur lain seperti bunga dan cermin yang harus dipasang, Devi dan Guntur pun merekrut orang untuk mengerjakan finishing-nya.

Bisnis yang dijalankan Devi serta Guntur ini memang tanpa pesaing. Dan kalaupun ada, Devi menyebutkan bahwa dirinya akan mendukung hal tersebut karena ia ingin mewujudkan buku anak yang berkualitas bagi anak-anak Indonesia.

Hingga kini, penerbit Rabbit Hole ini sudah mempublikasikan 11 judul dengan harga buku yang bervariasi mulai dari 29ribu rupiah hingga 185ribu rupiah. Dan buku tersebut diperuntukan bagi anak usia nol sampai tujuh tahun.

Dan yang tak kalah menarik dari buku Rabbit Hole ini dibanding dengan buku ensiklopedi palestina ataupun lainnya, buku ini berhasil menarik banyak peminat. Dan selanjutnya, Devi beserta Guntur bertekad untuk meluaskan jaringan buku produksi mereka agar anak-anak di Indonesia kian cinta membaca.

Sumber: http://www.bbc.com/indonesia/majalah-41134151

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *